HaditsTarikh

Kumpulan Peristiwa Dzulqa’dah

Rangkuman Beberapa Peristiwa Penting di Bulan Dzulqa’dah dalam Kitab-Kitab Sirah Ulama:

Pertama: Perang Bani Quraizhah

    Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam salah satu karya sirah-nya menyebutkan bahwa sehari setelah Rasulullah kembali ke Madinah, malaikat Jibril datang menemuinya pada waktu Dzuhur. Jibril berkata:

    “Sudahkah engkau meletakkan senjatamu? Demi Allah, kami (para malaikat) belum meletakkan senjata. Berangkatlah engkau sekarang bersama sahabat-sahabatmu menuju Bani Quraizhah, saya (Jibril) akan berjalan di depanmu untuk menggoncangkan benteng-benteng mereka dan menebarkan kekuatan di dada mereka.”

    Menanggapi pesan Jibril, Nabi Muhammad segera memerintahkan para sahabat untuk menuju perkampungan Bani Quraizhah, dengan pesan bahwa mereka tidak boleh melaksanakan salat Ashar hingga tiba di sana.

    Setibanya di wilayah Bani Quraizhah, pasukan Muslim mengepung kaum Yahudi yang bersembunyi di balik benteng mereka selama sekitar 25 malam (atau 25 hari menurut riwayat lain). Pada akhirnya, mereka menyerah setelah Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka, dan mereka pun tunduk pada keputusan hukum yang ditetapkan Rasulullah.

    Peristiwa ini, sebagaimana disampaikan Syekh Shafiyurrahman, terjadi pada bulan Dzulqa’dah:

    وَقَعَتْ هَذِهِ الْغَزْوَةُ فِيْ ذِيْ الْقَعْدَةِ سَنَةَ الخَامِسَةَ

    Artinya: “Peperangan ini (Bani Quraizhah) terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kelima (hijriah).”
    (Shafiyurrahman, Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], hlm. 281)

    Kedua: Perjanjian Hudaibiyah

      Menurut penjelasan Syekh Ali as-Shalabi dalam kitab sirahnya, ketika kekuatan kaum Muslimin semakin besar, mereka mulai bertekad untuk merebut hak mereka, yaitu beribadah di Masjidil Haram—sesuatu yang telah terhalang selama enam tahun oleh kaum musyrikin.

      Pada hari Senin di bulan Dzulqa’dah tahun ketujuh Hijriah (ada juga riwayat yang menyebut tahun keenam), Nabi Muhammad berangkat bersama 1400 sahabat tanpa membawa perlengkapan perang.

      Ketika sampai di Dzulhulaifah, Rasulullah memulai ihram untuk menunaikan umrah. Di sisi lain, kaum Quraisy mengira bahwa kedatangannya adalah untuk menyerang, sehingga mereka mengutus seseorang untuk memastikan maksud sebenarnya.

      Rasulullah menegaskan bahwa tujuannya hanyalah untuk beribadah umrah, bukan untuk berperang. Akhirnya, kedua pihak sepakat untuk melakukan perjanjian damai yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah, yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ketujuh Hijriah.
      (Ali as-Shalabi, Sirah Nabawiyah, Durusun wan Ibarun fi Tarbiyatil Ummah, [Beirut, Darul Fikr: 2019], juz VIII, hlm. 168)

      Ketiga: Empat Kali Umrah Rasulullah

        Dzulqa’dah merupakan bulan yang sangat dekat dengan musim haji. Karena itu, Rasulullah sering memanfaatkan bulan ini untuk melakukan umrah, baik sebagai bentuk ibadah maupun persiapan menjelang kewajiban ibadah haji.

        Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah melakukan empat kali umrah, semuanya terjadi pada bulan Dzulqa’dah:

        اعْتَمَرَ رَسُوْلُ اللَّهِ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةٍ: عُمْرَة مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَة مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَة مِنَ الْجِعْرَانَةِ، وَعُمْرَة مَعَ حَجَّتِهِ

        Artinya: “Rasulullah melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah, yaitu umrah dari Hudaibiyah di bulan Dzulqa’dah; satu umrah pada tahun berikutnya pada bulan Dzulqa’dah; satu umrah dari Ji’ranah; dan umrah bersama hajinya.”
        (HR Bukhari)

        Keempat: Allah Berbicara Langsung kepada Nabi Musa

          Selain peristiwa-peristiwa di atas, bulan Dzulqa’dah juga mencatat momen penting dalam sejarah kenabian, yaitu ketika Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa saat menerima wahyu berupa Taurat. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

          وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

          Artinya: “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan telah berfirman (langsung) kepadanya (Musa).” (QS. Al-A’raf: 143)

          Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengutip beberapa pendapat dari para ulama seperti Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraih, yang menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi di bulan Dzulqa’dah.

          (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, [Darut Thayyibah: 1999], juz III, hlm. 468)

          Share Kebaikan

          Leave a Reply

          Your email address will not be published. Required fields are marked *