TarikhUncategorized

Nabi Adam Turun Ke bumi

turunnya nabi Adam Alaihissalam dari surga ke bumi karena pelanggaran berbuah dosa kemudian diampuni oleh Allah Ta’ala, disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Qudamah dalam kitabnya “Kitabar-Riqqah”.

Dikisahkannya, sesaat setelah Adam AS makan buah khuldi, seluruh perhiasan surga berguguran dari tubuhnya. Tak ada yang tersisa selain mahkota dan hiasan pelipisnya.
“Setiap kali berusaha menutupi dirinya dengan dedaunan surga, pasti segera berjatuhan,” kata Ibnu Qudamah.

“Bersiap-siaplah keluar dari dekat Allah. Ini bencana pertama akibat kemaksiatan.”

“Adam Aku tidak pernah mengira ada orang yang bersumpah dusta atas nama Allah.”

Hawa mengatakan, sebab iblis telah bersumpah kepadanya tentang manfaat makan pohon khuldi.

Setelah itu Adam as berlari di surga karena malu pada Tuhan semesta alam ketika sebatang pohon menghimpitnya dengan beberapa dahannya. Adam as menyangka bahwa siksaan telah disegerakan dan Adam menundukkan kepalanya dan berseru. “Ampun-ampun!”

Maka Allah azza wa jalla menanyainya “Wahai Adam, kamu mau lari dariku?”

Dia menjawab, “Tidak. Tapi aku malu kepadamu Wahai Tuhanku.”

Lalu Allah azza wa jalla mewahyukan kepada dua orang malaikat: Jibril dan Mikail. “Keluarkan Adam dan Hawa dari sisiku. Mereka telah mendurhakaiku.”

Jibril bergegas menanggalkan mahkotanya, sementara Mikail melepaskan hiasan dari pelipisnya. Pasca diturunkan dari kerajaan suci ke negeri kelaparan dan kepayahan Adam as menangisi kesalahannya.

Setelah diturunkan ke bumi, tiba-tiba seekor elang yang sangat haus melintas di dekatnya dan langsung meminum air mata Adam yang terus mengalir di pipinya. Kemudian Allah menjadikan Elang tersebut mampu berbicara.

“Adam, aku telah hidup di bumi ini 2000 tahun sebelum dirimu. Aku telah mengembara ke ujung barat dan ujung timurnya. Aku telah minum air dari lembahnya, puncak gunungnya, dan tengah samudra. Tetapi aku belum pernah minum air yang lebih manis dan lebih wangi dari pada akhir-akhir ini.”

Mendengar hal itu Adam tersinggung dan berkata. “Elang, celaka kamu, apakah kamu paham apa yang kamu ucapkan?Bagaimana kamu bisa merasakan manisnya air mata seorang hamba yang telah mendurhakai Tuhannya dan mengalir di kedua pipinya yang sama-sama telah bermaksiat? Air mata apalagi yang lebih pahit daripada air mata seorang yang bermaksiat?

“Elang, aku yakin kamu sebenarnya menghina aku karena aku telah mendurhakai Tuhanku lalu aku dibuang dari kampung kenikmatan ke kampung kecelakaan dan kemiskinan,”Jawab Adam.

Elang berkata lagi “Adam aku sama sekali tidak bermaksud menghina. Tetapi, aku benar-benar merasakan kesegaran air matamu. Air mata apa yang lebih manis daripada air mata seorang hamba yang telah mendurhakai Tuhannya lalu ia ingat dosanya, hatinya menjadi ketakutan, tubuhnya menjadi kaku, dan ia terus-menerus menangisi dosanya karena takut kepada tuhan-nya?”

pendapat Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi yang memperkirakan bahwa Nabi Adam as diperintahkan turun ke bumi oleh Allah Ta’ala pada tahun 5872 SM. Pendapat ini tertulis dalam Qashash al-Anbiya’ Ibn Katsir dan Badai’ az-Zuhur Imam as-Suyuthi. Itu berarti, Adam as dan isterinya Hawa turun ke bumi hampir 8 ribu tahun yang lalu.

Namun, ada juga ilmuwan yang berpendapat bahwa Nabi Adam as. turun ke bumi jauh lebih lama dari itu. Mereka, menurut Miftakhuddin dalam bukunya berjudul Sejarah Peradaban Dunia –Lengkap — dari Era Manusia Pertama Hingga Perang Dunia Kedua, meyakini bahwa manusia modern pertama kali di muka bumi muncul di Afrika pada 200 ribu tahun yang lalu lebih sedikit. Manusia modern yang dimaksud ini tak lain adalah Nabi Adam as.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr Eran Elhaik dari University of Sheffield dan Dr Dan Graur dari University of Houston. Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil studi ilmuwan Inggris yang menyatakan Adam dan Hawa hadir di bumi sekitar 209 ribu tahun lalu.

Lalu di mana Nabi Adam turun? Para sahabat Rasulullah saw meriwayatkan bahwa tempat turunnya Nabi Adam as. adalah India. Di antara sahabat yang meriwayatkan hal ini, menurut Sami bin Abdullah Al-Maghlouth dalam Atlas Haji & Umrah, adalah Jabir seperti disampaikan Ibnu Abu Ad-Dunya, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Asakir. Lalu, Ibnu Umar seperti yang disampaikan Ath-Thabrani.

Adapun Hawa diturunkan oleh Allah Ta’ala di Jeddah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah. Adam pun mencari Hawa hingga tiba di Jama’, lalu Hawa didekatkan kepadanya—karena itulah dinamakan Muzdalifah. Akhirnya, mereka pun bertemu di Jama’.

Selanjutnya, Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi memperkirakan bahwa Nabi Adam as. meninggal pada tahun 4942 SM. Ketika itu, usia beliau sudah mencapai 930 tahun. Nabi Adam as meninggal di India, namun ada juga yang berpendapat beiau meninggal di Mekkah. Jumlah keturunan beliau diperkirakan 40 laki-laki dan perempuan.

Kemudian, bagaimana peradaban manusia bisa terbentuk setelah itu? Sejumlah sejarawan meyakini bahwa setelah peristiwa pembunuhan putra Adam, Qabil, atas putra Adam yang lain, Habil, maka Qabil (atau disebut juga Kain) pergi ke suatu tempat dan membentuk peradabannya sendiri. Bahkan, menurut Qurthubi, Qabil memiliki agama sendiri yang tak sama dengan agama bapaknya, Adam, dan keturunannya pun banyak membuat kerusakan, terutama Lamekh.

Sejumlah peneliti Barat mengemukakan bahwa tempat di mana Qabil membangun peradabannya sendiri ini dinamakan Atlantis dan berada di benua dengan nama yang sama, yakni Atlantis. Adapun Qurthubi menafsirkan Qabil pergi ke wilayah Adnan di Yaman.

Pasca perginya Qabil, Adam dan Hawa dikaruniai kembali anak kembar bernama Azura dan Set (Syits). Dari sinilah keturunan Adam kembali berlanjut hingga ke Nabi Idris dan Nuh. Mereka juga membangun sebuah peradaban bernama Lemuria, dan tinggal di benua yang disebut Mu (ada juga yang menyebut Motherland).

Share Kebaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *